Pengertian jurnalistik televisi
Secara sederhana jurnalistik televisi
dapat diartikan sebagai proses pencarian, pengumpulan, penyuntingan, dan
penyebarluasan berita melalui media televisi. Sebagaimana bentuk jurnalistik
lainnya, jurnalistik televisi pun memiliki beberapa kriteria peristiwa yang
layak menjadi sebuah berita untuk disebarluaskan kepada khalayak. Di antara
kriteria tersebut adalah nilai dan kualitas berita sebagai berikut:
- Timeless, artinya kesegaran waktu. Maksudnya peristiwa yang diangkat menjadi berita merupakan kejadian yang baru saja terjadi atau aktual.
- Impact, maksudnya peristiwa yang diangkat menjadi berita adalah kejadian yang dapat memberikan dampak terhadap kehidupan orang banyak.
- Prominence, artinya peristiwa yang diangkat mengandung nilai keagungan bagi seseorang maupun lembaga.
- Proximity, artinya peristiwa yang diangkat menjadi berita memiliki kedekatan dengan khalayak, baik secara geografis maupun emosional.
- Conflict, artinya peristiwa yang diangkat menjadi berita mengandung pertentangan antar perorangan, masyarakat, atau pun lembaga.
- The Unusual, maksudnya peristiwa yang diangkat menjadi berita merupakan kejadian yang tidak biasa terjadi, dan merupakan pengecualian dari pengalaman sehari-hari.
- The Currency, artinya peristiwa yang diangkat menjadi berita berasal dari hal yang sedang hangat diperbincangkan oleh khalayak.

Mengenai perbedaan antara karya jurnalistik cetak dan elektronik khususnya jurnalistik televisi, terdapat unsur-unsur dominan yang menjadi ciri khas jurnalistik televisi, yakni anchor, narasumber, dan bahasa. Berikut ini unsur dominan sekaligus karakteristik jurnalistik televisi:
Penampilan
Anchor (Penyaji Berita)
Seorang
anchor (penyaji berita) dan reporter di layar kaca dapat mempengaruhi persepsi
dan penerimaan pemirsa televisi. Anchor yang tampak memiliki integritas dan
kecerdasan mampu menghipnotis pemirsa untuk menyaksikan tayangan berita.
Penampilan anchor yang santai, bersahabat dan komunikatif mampu mengajak
pemirsa untuk lebih antusias mengikuti tayangan berita.
Narasumber
Jika
mendengarkan narasumber langsung menuturkan kesaksiannya tentang suatu
kejadian, khalayak mendapatkan kepuasan tersendiri. Itulah yang menjadi
kelebihan televisi. Menurut J.B. Wahyudi, dalam menyusun berita elektronik,
reporter dituntut memiliki keterampilan dalam mengombinasikan fakta, uraian
pendapat, dan penyajian pendapat yang relevan dari narasumbernya.
Bahasa
Bahasa
adalah sistem ungkapan melalui suara yang dihasilkan oleh pita suara manusia
yang bermakna, dengan satuan-satuan utamanya berupa kata-kata dan kalimat, yang
masing-masing memiliki kaidah-kaidah pembentuknya.
Ferdinand
de Saussure, seorang tokoh linguistik struktural menyimpulkan bahwa
kelanggengan sebuah sistem bahasa justru terjadi karena setiap orang bebas di
hadapan bahasa. Sebagai sebuah sistem, bahasa memang cenderung langgeng karena
kebebasan masyarakat di hadapan bahasa.
Bahasa
televisi dirancang secara teknis untuk memadukan gambar, kata-kata, dan suara
sekaligus pada saat bersamaan. Oleh karena itu, lahirlah beberapa kaidah bahasa
televisi, diantaranya; menggunakan gaya bahasa ringan dan sederhana,
menggunakan bahasa tutur (sehari-hari), penggunaan kata sesuai konteks berita,
menghindari ungkapan bias, hiperbol, dan bombastis, serta menghindari istilah
teknis atau asing.
tags :
jurnalistik televisi teori dan praktek
jurnal jurnalistik televisi
contoh makalah jurnalistik televisi
tags :
jurnalistik televisi teori dan praktek
jurnal jurnalistik televisi
contoh makalah jurnalistik televisi
0 comments:
Post a Comment